Articles

Pembagian penerima fasilitas bea cukai yang digunakan untuk mengobati Covid-19 paling lambat Juli 2020

Nov 10, 2020 Posted in Bea Cukai 0 Comments

TRIBUNNEWS.COM-Dalam rangka pemulihan perekonomian nasional dalam kurun waktu tertentu, berbagai fasilitas kepabeanan dan perpajakan terus digunakan atas barang impor guna menanggulangi pandemi Covid-19.

Hingga Juli 2020, telah direalisasikan untuk mempercepat layanan impor dan menjaga kestabilan harga peralatan. Alat kesehatan ini sudah tersebar di berbagai bidang.

Berdasarkan data kepabeanan sampai dengan 1 Juli 2020, fasilitas perpajakan atas impor barang yang diberikan untuk penanggulangan Covid-19 total nilai impor adalah 5.969.341.412.026 (5,9 triliun rupiah) Adapun fasilitas yang digunakan importir antara lain Skema Subsidi Komoditi Yayasan / Lembaga Sosial (PMK70), Komoditas Impor Pemerintah Pusat / Daerah (PMK 171) dan Penanggulangan Covid-19 (sesuai Lampiran A) (PMK 34). Kemudahan yang diberikan sistem berupa pembebasan bea masuk (BM), pajak pertambahan nilai dan pembebasan PPh 22 impor. Pada tanggal 1 Juli 2020, jumlah penyisihan pajak akan mencapai Rp1.432.603.521.064 (Rp1,4 miliar), dimana penyisihan BM adalah Rp.554.316.599.904, penyisihan pajak pertambahan nilai sebesar Rp578.113.073.250 dan penyisihan PPh 22. 300.173.847 .910 .- — Sebagian besar penerima pajak impor dan pembebasan pajak impor menggunakan sistem PMK 34. Per 1 Juli 2020, nilai fasilitas yang memperoleh manfaat dari sistem PMK 34 mencapai 955,05 miliar rupiah, dan sebagian besar penerima adalah perusahaan dengan Rp 724 miliar atau Rp75,87 miliar. Persentase dari total nilai impor alat kesehatan bebas pajak tersebut diikuti oleh pemerintah 152,8 miliar rupiah atau 16,00%, diikuti oleh yayasan / organisasi nirlaba 76,05 miliar rupiah atau 7,96%, dan individu 1,55 miliar rupiah atau 0,18%. Per 23 Juni 2020, produk yang dilengkapi fasilitas PMK 34 meliputi beberapa jenis peralatan kesehatan. Di bidang alat kesehatan, masker mendominasi, masker yang diimpor sebanyak 99 juta buah dengan nilai impor 400 miliar rupiah, disusul masker lainnya 52,7 juta buah senilai 276 miliar rupiah, dan masker gas 3,4 juta buah senilai 15,2 miliar rupiah. melindungi. Sebanyak 3,9 juta alat kesehatan berupa pakaian pelindung diri didatangkan dengan nilai Rp 789 miliar. Adapun hand sanitizer yang diimpor sebanyak 2,3 juta buah dengan nilai impor 441 miliar rupiah.

Hampir seluruh provinsi di Indonesia memiliki distribusi penerima manfaat perbekalan kesehatan terutama Jakarta dan bea cukai imigrasi Soekarno Hatta. Ada 1042 entitas yang masuk ke Bea Cukai Soekarno Hatta, 2344 dokumen impor, dan nilai impor 4,07 triliun dollar AS atau setara dengan 68,28% dari impor alat kesehatan nasional. Proposal BNPB kelengkapan dokumen impor alat kesehatan mengalami penurunan sejak minggu ketiga April, dan telah stabil dari pertengahan Mei 2020 hingga Juni 2020.

Dalam pajak konsumsi, fasilitas pengecualian disediakan untuk perawatan etanol Covid-19, terutama sebagai dasar untuk produksi disinfektan tangan, disinfektan, dan bahan lainnya. Kuota etanol yang mendapat fasilitas pembebasan pajak konsumsi adalah 86.134.420 liter, mencapai 16.148.828 liter dengan nilai Rp 322.976.560.000, penerima manfaat terdiri dari 149 kelompok niaga parsial dan 63 kelompok non-niaga.

Bea Cukai berkomitmen untuk melayani masyarakat 24/7 dan memberikan berbagai kemudahan melalui fasilitas dan relaksasi kebijakan dalam Covid Pandemic 19 sehingga masyarakat dapat dengan mudah memperoleh alat kesehatan. Bagi pengguna jasa dan masyarakat yang membutuhkan informasi lebih lanjut, dapat menghubungi Customs Contact Center di 1500225 (live web chat via bit.ly/bravobc) atau melalui media sosial @beacukairi. (*)

Leave A Comment

  • Rate this recipe: