Articles

Kantor Pabean Daerah Kepulauan Riau memperkenalkan kinerja kuartal pertama tahun 2020

Jul 23, 2020 Posted in Bea Cukai 0 Comments

TRIBUNNEWS.COM – Sebagai transparansi manajemen keuangan publik, Kantor Pabean Daerah Istimewa Kepulauan Riau mengajukan laporan tentang kinerja kuartal pertama 2020 Rabu lalu (04/08). Termasuk pencapaian pendapatan, analisis tren dan pengawasan Kantor Pajak Konsumsi Khusus di wilayah Kepulauan Riau. Dan pajak impor (PDRI). “Untuk kuartal pertama tahun fiskal 2020, pendapatan pemerintah kami mencapai 711 miliar rupee,” kata Agus Yulianto, kepala Kantor Pabean Khusus Kepulauan Riau. Pajak konsumsi adalah 243 juta rupee, pajak pertambahan nilai adalah 474 miliar rupee, pajak bisnis mewah (PPNBM) adalah 7,9 juta rupee, pajak penghasilan impor (PPh) adalah 1,25 miliar rupee, pajak pendapatan ekspor (PPh) adalah 850 miliar rupee, dan PP PPN adalah 65 miliar rupee. rupee. Di Argus, nilai mata uang ekspor pada kuartal pertama 2020 adalah US $ 495 juta, yang lebih rendah dari mata uang impor senilai US $ 507 juta, yang berarti bahwa neraca perdagangan mengalami defisit US $ 11 juta. Ekspor komoditas terbesar adalah gas alam, yang nilai tukarnya adalah US $ 336 juta. Perusahaan Pertamina, Medco E&P Natuna LTD dan Premier Oil Natuna Sea BV diekspor sebagai minyak mentah ke wilayah Riau, dengan nilai mata uang 443 juta dolar AS, dan Timah Tbk mengekspor timah. “Mata uangnya bernilai US $ 35 juta, dan kelapa yang diekspor oleh Saricotama Indonesia bernilai US $ 915.000,” katanya.

Dalam hal pengawasan, pada tahun fiskal 2019, Agus terus menerapkan pajak konsumsi khusus kantor regional Kepulauan Riau, 100 barang mencapai nilai 166 miliar rupee, yang dapat menyebabkan kerugian nasional 175 miliar rupee.

“Pada kuartal pertama tahun fiskal 2020, kami melakukan 23 operasi pengawasan. Salah satu operasi yang berhasil dihentikan oleh Kantor Pajak Konsumsi Khusus Daerah Kepulauan Riau adalah penyelundupan 26 kilogram metamfetamin. Negara menemukan kegiatan ilegal. Potensi kerugian yang diderita mencapai 56 miliar rupiah, termasuk berbagai jenis produk, seperti furnitur, minyak mentah, pelumas dan bahan bakar, kendaraan (kendaraan bermotor / tidak bermotor), suku cadang dan aksesori kendaraan, narkotika dan perintis mental ( NPP), produk tembakau, minuman yang mengandung etanol, ball press, dan berbagai produk lainnya yang melanggar undang-undang bea cukai dan peraturan pajak konsumsi, pungkasnya.

Leave A Comment

  • Rate this recipe: