Articles

Pembagian penerima fasilitas bea cukai yang digunakan untuk mengobati Covid-19 paling lambat Juli 2020

Agu 12, 2020 Posted in Bea Cukai 0 Comments

TRIBUNNEWS.COM-Sebagai bagian dari masa pemulihan perekonomian nasional, berbagai fasilitas kepabeanan dan perpajakan terus digunakan atas barang impor guna menanggulangi pandemi Covid-19.

Hingga Juli 2020, realisasikan pemberian fasilitas untuk mempercepat layanan impor dan menjaga harga peralatan tetap stabil. Alat kesehatan ini sudah tersebar di berbagai departemen.

Berdasarkan data Dinas Pabean, hingga 1 Juli 2020, total nilai impor fasilitas pajak impor komoditas untuk penanggulangan Covid-19 adalah 5.969.341.412.026 (5,9 triliun rupiah). Fasilitas yang digunakan importir antara lain Program Subsidi Komoditi Yayasan / Lembaga Sosial (PMK70), Komoditas Impor Pemerintah Pusat / Daerah (PMK 171) dan Penanggulangan Covid-19 (sesuai Lampiran A) (PMK 34). Kemudahan yang diberikan sistem berupa pembebasan bea masuk (BM), pajak pertambahan nilai dan pembebasan PPh 22 impor. Pada tanggal 1 Juli 2020, total nilai pembebasan pajak mencapai Rp1.432.603.521.064 (Rp1,4 miliar), dimana penyisihan BM sebesar Rp554.316.599.904, tidak dikenakan pajak pertambahan nilai sebesar Rp578.113.073.250, dan pembebasan PPh 22 menjadi Rp300.173.847.474.910 .

Sebagian besar penerima pajak impor dan pembebasan pajak impor menggunakan sistem PMK 34. Per 1 Juli 2020, nilai fasilitas yang mendapat manfaat dari rezim PMK 34 mencapai 955,05 miliar rupee, di mana penerima manfaat terbesar adalah perusahaan sebesar 724 miliar rupee atau 75,87. Persentase nilai total impor alat kesehatan bebas pajak, diikuti oleh pemerintah 152,8 miliar rupiah atau 16,00%, diikuti oleh yayasan / organisasi nirlaba sebesar 76,05 miliar rupiah atau 7,96%, dan individu sebesar 1,55 miliar rupiah atau 0,18% .- — Komoditas yang diimpor dengan sistem PMK 34 pada 23 Juni 2020, termasuk beberapa alat kesehatan. Dari sisi alat kesehatan, masker mendominasi, masker yang diimpor 99 juta buah dengan nilai impor 400 miliar rupiah, disusul masker lainnya 52,7 juta buah senilai 276 miliar rupiah, dan masker gas 3,4 juta buah senilai 15,2 miliar rupiah. . Ada 3,9 juta potong peralatan medis dalam bentuk pakaian pelindung pribadi, dengan nilai impor Rp 789 miliar. Jumlah hand sanitizer yang diimpor maksimal 2,3 juta dengan nilai impor 44,1 miliar rupiah.

Hampir di seluruh provinsi di Indonesia (terutama di Kantor Pabean Jakarta dan Bea Cukai Soekarno Hatta), pendistribusian fasilitas impor alat kesehatan penerima telah dilakukan. Sebanyak 1.042 entitas telah mengimpor dokumen pabean Soekarno Hatta, total ada 2.344 dokumen dengan nilai impor US $ 4,07 triliun atau setara dengan 68,28% impor perbekalan kesehatan dalam negeri.

Sejak awal minggu ketiga bulan April, proses permintaan rujukan integritas dokumen impor alat kesehatan BNPB telah menurun, dan telah stabil dari pertengahan Mei 2020 hingga Juni 2020.

Dalam bidang pajak konsumsi, etanol dapat digunakan untuk mengobati Covid-19, terutama sebagai dasar untuk produksi disinfektan tangan, disinfektan, dll. Kuota etanol yang mendapat fasilitas pembebasan pajak konsumsi adalah 86.134.420 liter, mencapai 16.148.828 liter, senilai Rp 322.976.560.000, terdiri dari 149 kelompok niaga parsial dan 63 kelompok non-komersial.

Bea Cukai berkomitmen untuk melayani masyarakat 24/7 dan menyediakan berbagai fasilitas melalui fasilitas dan relaksasi kebijakan dalam pandemi Covid 19 sehingga masyarakat dapat dengan mudah memperoleh alat kesehatan. Bagi pengguna jasa dan masyarakat yang membutuhkan informasi lebih lanjut, dapat menghubungi Customs Contact Center di 1500225 (web chat real-time melalui bit.ly/bravobc) atau melalui media sosial @beacukairi. (*)

Leave A Comment

  • Rate this recipe: