Articles

Pembagian penerima fasilitas bea cukai yang digunakan untuk mengobati Covid-19 paling lambat Juli 2020

Agu 26, 2020 Posted in Bea Cukai 0 Comments

TRIBUNNEWS.COM-Dalam rangka masa pemulihan ekonomi nasional, berbagai fasilitas kepabeanan dan perpajakan atas barang impor terus kita gunakan untuk merespon wabah Covid-19.

Hingga Juli 2020, realisasi fasilitas akan mampu mempercepat impor layanan dan menjaga harga peralatan tetap stabil. Alat kesehatan ini sudah tersebar di berbagai bidang.

Berdasarkan data kepabeanan hingga 1 Juli 2020 telah disediakan 19 item barang impor dengan total nilai 5.969.341.412.026 (5,9 triliun rupiah) untuk mencegah Covid. Fasilitas yang digunakan importir antara lain Program Subsidi Komoditas Yayasan / Lembaga Sosial (PMK70), Komoditas Impor Pemerintah Pusat / Daerah (PMK 171) dan Penanggulangan Covid-19 (sesuai Lampiran A) (PMK 34). Bentuk kemudahan yang diberikan oleh rezim adalah pembebasan bea masuk (BM), pajak pertambahan nilai, dan pembebasan PPh 22 impor. Per tanggal 1 Juli 2020, jumlah penyisihan pajak akan mencapai Rp1.432.603.521.064 (Rp1,4 miliar), di antaranya penyisihan BM sebesar Rp554.316.599.904, penyisihan pajak pertambahan nilai sebesar Rp578.113.073.250 dan penyisihan PPh 22. 300,173,847.910 .- — Sebagian besar penerima pajak impor dan pembebasan pajak impor menggunakan sistem PMK 34. Sampai dengan 1 Juli 2020, nilai fasilitas yang memperoleh manfaat dari sistem PMK 34 telah mencapai 955,05 miliar rupiah, dan sebagian besar penerima manfaat adalah perusahaan dengan Rp 724 miliar atau Rp 75,87 miliar. Persentase nilai total impor alat kesehatan bebas pajak tersebut diikuti oleh pemerintah 152,8 miliar rupiah atau 16,00%, disusul yayasan / lembaga nirlaba 76,05 miliar rupiah atau 7,96%, dan perseorangan 1,55 miliar rupiah atau 0,18%. Per 23 Juni 2020, barang dengan fasilitas PMK 34 sudah termasuk beberapa alat kesehatan. Dari sisi alat kesehatan, masker mendominasi, masker yang diimpor sebanyak 99 juta buah dengan nilai impor 400 miliar rupiah, diikuti 52,7 juta masker lainnya senilai 276 miliar rupiah, dan masker gas sebesar 3,4 juta rupiah senilai 15,2 miliar rupiah. melindungi. Sebanyak 3,9 juta alat kesehatan berupa pakaian pelindung diri didatangkan dengan nilai Rp 789 miliar. Untuk hand sanitizer yang diimpor sebanyak 2,3 juta buah, dan nilai impornya 44,1 miliar rupiah.

Hampir di seluruh provinsi di Indonesia terdapat sebaran fasilitas impor penerima perbekalan kesehatan yang mendominasi Jakarta. Departemen Imigrasi Bea Cukai Sukarno Hatta. Ada 1042 entitas yang masuk ke Bea Cukai Soekarno Hatta, 2344 dokumen impor, dan nilai impor 4,07 triliun dolar AS atau setara dengan 68,28% dari impor alat kesehatan nasional. Prosedur aplikasi yang direkomendasikan BNPB untuk integritas dokumen impor alat kesehatan meliputi: penurunan sejak awal minggu ketiga April, dan stabilisasi dari pertengahan Mei 2020 hingga Juni 2020.

Dalam pajak konsumsi, fasilitas pengecualian disediakan untuk perawatan etanol Covid-19, terutama sebagai dasar untuk produksi disinfektan tangan, disinfektan, dan bahan lainnya. Kuota etanol bebas pajak sebesar 86.134.420 liter, mencapai 16.148.828 liter, senilai Rp 322.976.560.000, penerima manfaat meliputi 149 suku cadang komersial dan 63 kelompok non-komersial.

Bea Cukai berkomitmen untuk melayani masyarakat 24/7 dan menyediakan berbagai fasilitas melalui fasilitas dan pelonggaran kebijakan selama pandemi Covid-19 sehingga masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan perbekalan kesehatan. Bagi pengguna jasa dan masyarakat yang membutuhkan informasi lebih lanjut, dapat menghubungi Customs Contact Center 1500225 (web chat real-time melalui bit.ly/bravobc) atau melalui media sosial @beacukairi. (*)

Leave A Comment

  • Rate this recipe: