Articles

Nilai penggunaan fasilitas bea cukai sebelum ekonomi nasional pulih

Okt 25, 2020 Posted in Bea Cukai 0 Comments

TRIBUNNEWS.COM-Memasuki masa pemulihan ekonomi nasional, pemerintah terus bekerja keras untuk menstabilkan dampaknya terhadap pertumbuhan dan kesejahteraan.

Selama pandemi Covid-19, Kementerian Keuangan memberikan layanan melalui bea cukai dan pajak konsumsi. Berbagai insentif finansial dan prosedural untuk membalikkan penurunan kinerja ekonomi akibat dampak virus corona, dan dukungan kepada perusahaan agar tidak semakin terpuruk.

Berdasarkan data per 2 Juni 2020, pajak memberikan kemudahan atas impor barang untuk penanggulangan Covid-19, dengan total nilai impor Rp. Rp 3,84 triliun merupakan produk impor terbesar dalam bentuk masker, sebanyak 133.140.117 produk impor dari berbagai negara.

Fasilitas yang digunakan importir antara lain Program Subsidi Komoditi Yayasan / Lembaga Sosial (PMK70), Pemerintah / Daerah Komoditi Yang Diimpor oleh Pemerintah Pusat (PMK 171), sesuai dengan penanggulangan Covid-19 yang dilampiri huruf A (PMK 34) , Dan non-instalasi. Sistem tersebut berupa pembebasan bea masuk (BM) dan pajak konsumsi, tanpa menggunakan PPN dan PPnBM, serta pembebasan PPh 22 impor. Total nilai pembebasan pajak dari 13 Maret hingga 2 Juni 2020 mencapai Rp848.000.065.722 (Rp848 miliar), di mana total penyisihan BM adalah Rp390.522.910.569, tidak termasuk PPN dan PPnBM 282157292481 Rp, pembebasan pajak 22 PPh Rp . 175 319 862 672.

Selain itu, dalam program Surat Keterangan Asal (SKA), fasilitas impor juga diberikan dengan negara mitra ASEAN. Secara rata-rata, pada tahun 2020, jumlah impor yang menggunakan SKA akan mencapai sekitar 33% dari total impor devisa, dan sekitar 52,37% dari total nilai devisa impor yang menggunakan SKA. Impor pangan yang termasuk dalam 10 produk yang diimpor melalui SKA adalah gula dan kembang gula dari ASEAN (tabel D), Australia (tabel AANZ), China (tabel E) dan India (tabel AI). Dari sisi fasilitas, pihak bea cukai juga memberikan kondisi relaksasi bagi perusahaan yang menggunakan fasilitas kawasan berikat (KB) dan fasilitas tujuan impor dan ekspor (KITE). Sejak 1 April hingga 27 April 2020, total nilai insentif perpajakan yang diberikan dalam bentuk pembebasan pajak mencapai Rp 882.637.858.209 (Rp 882,63 miliar) sebagaimana diatur dalam Pasal 22. — Di bidang pajak konsumsi, etil digunakan untuk menangani alkohol Covid-19, terutama sebagai bahan baku dasar produksi hand sanitizer dan disinfektan. Per 1 Juni 2020, jumlah etanol yang dibebaskan dari pajak konsumsi adalah 82.616.950 liter senilai Rp1,652 miliar dengan penerima manfaat dari instalasi tersebut adalah komponen komersial (19,41%) dan nonkomersial (53,55%). Kemudian, mulai 31 Mei 2020 juga telah menyerahkan kepada 82 pabrik untuk melonggarkan ketentuan pajak konsumsi dan produksi rokok, dan pabrik-pabrik tersebut telah menyerahkan dokumen perpanjangan pajak konsumsi selama 90 hari. Total nilai cukai sebesar 18,1 triliun rupiah yang meliputi delapan pabrik rokok tipe I (1,4 miliar rupiah), 67 pabrik rokok tipe II (3,3 triliun dolar AS) dan 7 batang rokok tipe III (0,019 triliun dolar AS). Berkomitmen untuk melayani masyarakat 24/7 dan memberikan berbagai kemudahan melalui fasilitas dan relaksasi selama pandemi Covid-19, serta terus menjalankan fungsi pengawasan untuk melindungi masyarakat dari barang berbahaya dan ilegal. -Untuk pengguna layanan dan publik yang membutuhkan informasi lebih lanjut, Anda tidak dapat menghubungi Pusat Kontak Bea Cukai 1500225 (obrolan web langsung di bit.ly/bravobc) atau melalui media sosial @beacukairi. (*)

Leave A Comment

  • Rate this recipe: